Ruth Regina's posts with tag: keluarga

|  | Lagi hamdun jaya berkebaya sungguh bikin resah... Karena mohob alias gerah... Apalagi pakai kain... Gpp deh, yang penting ok, kan? Hihihihi. Dannnnnnnnnn ini adalah rekor pertama gue selama hamil pake sendal high heels dari jam 07.00 - 15.00 alias 8 jammmm!!!! Nyut-nyutan siy... tapi demiiii... hahahaha...
Anyway, ini pernikahan adik ipar gue, adiknya Rony, tanggal 20 Mei 2008 lalu. Pemberkatan berlangsung di HKBP Poltangan Pasar Minggu, resepsi dan adat di Gedung Pertemuan Sejahtera, Pondok Gede. Ini kedua kalinya duduk di singgasana (hahaha) dan pertama kalinya ngulosin orang.
Kebaya jahit di Niken (waktu kebaya kawinan gue pun) dan make up oleh Mbak Lisna, sepertinya gue emang cocoknya sama dia doang... Kain songket minjem punya nyokap (hahahaha) dan sendal yang gue pake itu sendal waktu resepsi pernikahan gue. Tingginya emang bikin pegel gila untuk gue yang lagi hamil ini.
Selamat untuk Rina dan Romeo, selamat menempuh hidup baru, rukun-rukun selalu dan kutunggu kabar "positif"nya, hihiihihihihi....
|
“Ruth, kamu lanjutin lagi yaa pelayanan kamu di gereja HKPBP Poltangan…” “Iya, Amang…” “Kamu kan majelis non-tahbisan…” “Iya, Amang… nanti aku lanjutin.” Nyatanya sampai hari gini belum juga gue lanjutkan atau melaksanakan permintaan dia, walaupun sebenarnya gue sudah kangen dengan kegiatan itu di gereja.
Sepulang Amang dari Singapore, untuk treatment dan second opinion di National University Hospital, gue minta Rony untuk ngeluarin keyboard dari kamarnya, supaya bisa nyanyi-nyanyi di rumah sekaligus untuk kebaktian kecil.
Waktu hasil diagnosa dari NUH sudah diberikan ke kami (via telepon, e-mail dan fax), dia dinyatakan Limfoma stadium 4. Dari hasil googling gue, Limfoma itu kanker kelenjar getah bening. Dikatakan stadium 4 karena ada 7 ‘akar’ dalam tubuhnya yang terserang sel kanker itu. Kemudian disarankan untuk menjalani kemoterapi.
Opsi kemoterapi ini juga menjadi dilema bagi keluarga. Pertama, karena kami semua tau bahwa kemoterapi itu menyakitkan, bukan hanya sel kanker yang dimatikan, tapi juga sel-sel kekebalan tubuh ikut dimatikan. Kedua, kondisi fisik Amang, pada waktu itu memang agak lemah. Amang mertua sudah diberitau tentang ini semua dan dia justru semangat untuk menjalani kemoterapi itu. Kami pun mendukung semangatnya. Yahhh, dibawa dalam doa aja, semoga ini jalan yang terbaik. Apa pun resikonya, diterima dengan lapang dada dengan tidak menuding pihak lain sebagai penyebabnya. Kamis (3/1) dibawa ke RS Cikini untuk pemeriksaan lengkap sebelum kemo. Sabtu (5/1) adalah kemo pertama. Prof. Karmel menjadwalkan kemo kedua ada minggu ketiga setelah yang pertama, artinya tanggal 26 Januari.
Setelah hari Sabtu dikemo pertama, di hari Minggu (6/1) sampai Selasa (8/1) masih baik-baik aja. Katanya tidak ada yang sakit. Hari Rabu (9/1) mulai drop. Trombosit menurun sehingga harus transfusi darah. Tensi darah juga turun.
Hari Kamis (10/1) ada acara pra-lamaran adik ipar gue di rumah, yang pada akhirnya tidak diwakili kedua orangtua alias mertua gue. Harus gue akui, Rina, adik ipar gue, tegarrrrr banget. Setelah acara itu kami dan keluarga calonnya Rina menuju RS Cikini. Disana udah ada Rony dan Inang. Gue bilang sama Rony, “Kamu fokus ke Amang dan Inang, aku fokus buat kawinan Rina.”. Sekitar pukul 22.00wib gue dan Rina pulang, Rony masih nginep di RS sama inang.
Jumat (11/1) pagi, Rony SMS gue dengan mengatakan kondisi Amang semakin drop, nafas tersengal-sengal dan tidak sadar. Dipanggil-panggil nggak ada respon sama sekali. Saat itu juga harus masuk ICU. 
Di ICU hanya diberi pertolongan terakhir, namun sayangnya tetap tidak ada respon positif. Hanya 10 menit di ruang ICU, Amang udah nggak kuat lagi. Dan dia pun pergi…. Kepergiannya sekitar pukul 10an pagi. Dimakamkan hari Minggu (13/1) di TPU Kampung Kandang.

Lepas dari dia adalah Amang Mertua gue, beliau memang orang yang baik banget. Pendiam, tidak banyak bicara, tapi juga memperhatikan segala sesuatu dengan detail. 3 bulan sakit, nggak pernah mengeluh atas sakitnya. Yang pernah gue denger dia cuma bilang bosan sudah 2 bulan di RS Cikini. Kalau ditanya sakit apa nggak, jawabnya tidak. Kalau ditanya gimana rasanya saat ini, jawabnya baik-baik saja. Padahal kami tau, dia kesakitan. Gue memang sangat bersyukur selama 4 bulan ini bisa kenal dia lebih dekat, bisa melayani dia dan bisa membuatnya tertawa. Hehehehe, agak susah soalnya, kadang kalo ngeliat Amang, orangnya datarrrrr banget. Walaupun ada yang gue sesali, setelah kemo gue ga pernah bertemu muka dengannya, karena gue ga bisa sembarangan masuk ruangan . Saat itu gue cuma pengen dia tau, kalo gue ada disitu. Tapi ya sudah lah, gue yakin kok dia pasti tau kalo gue ada disitu.
Yeah… Amang M. Siahaan (64 tahun), mertua yang sangat baik. Sampai ketemu lagi ya, Amang... 
Foto-foto di atas waktu di NUH, Singapore dan pemberkatan pernikahan gue dan Rony.
“Babe, walopun aku belum hamdun, kalo nanti punya anak perempuan namanya Zara, ya…” “Iya, babe…” “Namanya unik dan keren. Biar dia jadi anak perempuan yang keren dan trendy, hehehehe…” “Iya, babe…”
Itu tadi percakapan sekitar 2 bulan yang lalu. Lalu barusan gue abis ke www.babynames.com, mau cari arti nama Zara. Langsung copy paste ke Rony via IM. Hihihihihhi…
Sayangnya nama Zoro nggak tersedia di web itu. Ada yang tau artinya? Kan sapa tau nanti mirip Antonio Banderas wajahnya... wakakakakkkk...

|  | Kalo nggak salah begitu artian dalam bahasa Indonesia. Sebelum dibaptis di gereja, ada ritual adat ini dulu. Tapi gue juga kurang paham apa artinya, hehehe.
Namanya Rachel Felicia, anak dari Bang Anto & Friska (abangnya Rony). Acara dilakukan di kediaman Friska di suatu tempat nan jauh, hehehe...
Kapan giliran gue, ya? (^_^)
|
“Papa dimana skrg? Udah fit belom badannya? Ambil cuti gih pa, istirahat dulu. Papa stress kenapa sih? Tadi siang mama cerita. Jaga kesehatan ya pa. Maaf ya pa, sampe skrg ruth blm sempet nginep di rumah, padahal pengen bgt, kangen suasana rumah. Tapi susah cari waktu yg tepat, apalagi dgn kondisi amang skrg. Bsk dia opname lg, hari sabtu (5/1) mau dikemo.” ---- Sent to Mon Père, 02.01.2008 21:50 “Baru 10 menit tiba di rmh.” ---- Received from Mon Père, 02.01.2008 21:48 “Oh, ya sudah, makan dan langsung tidur aja ya pa.” ---- Sent to Mon Père, 02.01.2008 22:01 “Tks, nak.” ---- Received from Mon Père, 02.01.2008 21:56 “Sehat-sehat ya pa.. Ruth sayang papa.. sayang mama.. Semuanya.. Termasuk si cumi-cumi kefas, hehe.. Kangeeeennn...” ---- Sent to Mon Père, 02.01.2008 22:10 Akhir-akhir ini gue seperti dihadapkan dengan sebuah layer besar yang mempertontonkan perilaku gue ke orangtua selama ini. Ternyata ada yang nggak banget, tapi ada juga yang baik-baik aja. Ditambah lagi kondisi dimana Rony sekeluarga khawatir untuk kehilangan karena amang mertua yang masih sakit, beliau terdiagnosa kanker. Ada yang mau gue share tentang hal ini. Ketika orangtua kita sudah lanjut usia, mereka nggak mengharapkan sebuah imbalan materi seakan-akan kita harus bayar biaya hidup kita dari kecil sampe kuliah.
Mereka hanya pengen ngerasa atau bener-bener tau kalo anak-anaknya ada di samping dia. Buat hatinya senang. Hal ini udah cukup jadi bayaran paling mahal. Ketika kita mulai pacaran, udah otomatis waktu untuk mereka terbagi. Begitu juga ketika kita mulai kenal dengan pergaulan. Waktu itu nyokap gue pernah stress karena kesepian. Semuanya pada punya aktifitas di luar rumah kecuali dia yang sebagai Ibu Rumah Tangga. “Mama stress kesepian di rumah. Papa kerja, kamu kerja, Helen kerja, Icha kerja, Ekel latihan, Kiki di Bandung. Pergi pagi, pulang malam. Masa Mama sama Gilly, Carry dan Cantik mulu?”, 3 nama terakhir adalah anjing-anjing di rumah. Ya ya ya, waktu gue emang sedikiiiiiit sekali buat di rumah. Itu lah kenapa gue lebih seneng menghabiskan weekend di rumah atau pergi sama mereka. Mulai dari belanja ke Carrefour, nemenin bokap mau ngirim barang, atau ke pesta Batak, hihihi. Itu pun kalo lagi nggak kemana-mana sama Rony, hehehehe. Lagian waktu itu jatah pacarannya emang seminggu sekali, hahahaha. Sekarang , berhubung sudah menikah, gue sering janjian makan siang sama mereka. Maka, selagi kedua orangtua kita masih dalam keadaan sehat rohani dan jasmani, banyak-banyakin lah waktu untuk mereka. Berharga banget. Apabila waktunya untuk berpulang sudah ditentukan sang Pencipta, air mata yang jatuh bukan karena penyesalan, melainkan mengenang kebaikan-kebaikan di masa itu akan segera masuk folder memori. Salam untuk kedua orangtuamu dimana pun mereka berada. (^_^)
Terima kasih untuk mama yang sudah membiarkan gue mengacak-acak dapurnya sejak gue masih SMP. Walaupun masih sebatas telur ceplok, hehehe.. Jauh sebelum nikah, adik gue yang cowok pernah sakit. Biasa lah, pertanyaan spesial untuk anggota di rumah kalo lagi sakit, "Mau makan apa?". Dia jawab, "Nasi goreng buatan Kak Ruth..".Sejak SMA nyokap gue nggak pernah menggunakan jasa asisten rumah tangga, karena anaknya sudah besar. Setiap akhir pekan dia menugaskan gue atau adek gue untuk masak. Tapi gue bolong-bolong, sih... Hihihihi..Setelah nikah, sebelum inangboru gue meninggal, alm. cerita bahwa dia mimpiin gue, "Saya mimpi kamu masak-masak di rumah mertuamu...".Entah itu tebakan apa bukan, tapi gue memang lagi tergila-gila dengan masak. Beberapa hari lalu, pas mau pulang kantor, gue lupa minta tolong asisten rumah tangga di rumah mertua gue untuk masak. Mertua gue lagi di Singapore untuk medical treatment, otomatis nggak ada yang masak kalo lagi hari kerja. Ya sudah lah, sekalian ketemu sama Rony di Hero Mampang, gue belanja keperluan ngepul dapur, hehehe.Sampe rumah, tanpa ganti baju terlebih dahulu, gue langsung masak. Masak kentang goreng dengan bumbu olahan sendiri (thanks to Mbak Stella) dan sayur buncis saus tiram. Hihihihi, kata Rony enak... Semalam gue sampe rumah duluan. Begitu Rony di rumah, gue langsung memastikan mudah-mudahan dia belum makan malam, karena Mbak Ipon masak buat kami. "Yahhhh, kirain masakan kamu, babe....", kata Rony. Ahhhh senangnya mendapatkan pujian secara nggak langsung dari kalimat itu... hihihihihii. Masak buat suami emang sangat menyenangkan. Paling tidak, gue nggak membuat mertua khawatir akan asupan makanan di rumah selama dia nggak ada. Weekend ini masak apa yaa? Pengen masak kodok goreng mentega deh...
Waktu SD saya sangat percaya bahwa Sinterklas itu ada, bahkan tiap malam Natal saya selalu meletakkan satu buah kardus kosong yang sudah dihias, kemudian diletakkan di bawah pohon cemara yang ada di teras depan rumah saya.Di dalam kardus itu saya meletakkan kertas surat wangi dengan gambar Sanrio (waktu itu happnening banget, boooo) dan saya tempeli dengan gamber tempel bludru. Saya tulis apa saja yang saya inginkan. Ada 2 hal yang saya masih ingat banget, sebuah sepasang sepatu patent leather warna hitam dan baju seperti peri. Sebelum tidur saya berdoa semoga Om Jes dan Om Sinterklas mengabulkan permintaan saya.Paginya saya mendapati kardus cantik (well, menurut saya kardusnya cantik) itu dalam keadaan kosong. Saya mau nangis. Saya ingat kata Kakak Sekolah Minggu, kalau anak nakal tidak dapat hadiah dari Sinterklas. Tapi saya menyangkal, selama ini saya jadi anak baik, kok. "Huh, ini pasti ulah Om Piet Hitam..", keluh saya. Kebiasaan meletakkan kardus di bawah pohon cemara saya hentikan, kalo ga salah ketika saya sudah kelas 4 SD. Toh, Sinterklas udah ngasih hadiah melalui tante-tante saya. Hehehehe.Februari 2008 nanti usia saya 27 tahun dan saya masih percaya bahwa Sinterklas itu ada, percaya atau tidak, Sinterklas bener-bener bisa bikin saya ceria. Kali ini saya akan kotak kecil kosong dengan surat yang akan saya letakkan di bawah pohon natal di rumah. Suratnya kurang lebih seperti ini:"Dear Om Jes, lagi apa dan dimana? Om mau ga intip daftar anak dan hadiah punya Om Sinterklas? Kayak Huey, Dewey, and Louie yang berusaha ingin tau Paman Donald dapet apa dari Om Sinterklas. Aku dapet apa, Om Jes? Kalo Om Jes dan Om Sinterklas mengijinkan, aku punya wish listnya. Aku pengen Natal tahun ini semua keluargaku kumpul di rumah. Mertuaku pulang ke rumah, Om. Pleaseeee... It's been two months, Om... Disembuhin yaa. Aku juga mau Kefas, keponakanku, sembuh dari diarenya, aku terlalu parno, Om, wabah diare lagi parah sekali. Semoga dia jadi anak yang selalu jadi kebanggaan kami. Aku pribadi minta dikasih kesehatan yang baik dan baby. Sertai juga suamiku dalam setiap langkah hidupnya, dia salah satu bagian hidupku. Aku minta adik-adikku menjalani kuliah dan pekerjaannya dengan baik, sehingga mereka bisa menuai hasil yang baik. Aku ingin kedua orangtuaku tetap sehat dan harmonis selalu, diberikan kebijaksanaan, hikmat, kekuatan hati, pikiran dan fisik menjalani hidup sebagai orangtua, sehingga kami pun bisa memetik buah baiknya.Om Jes dan Om Sinterklas, ijinkan aku untuk mendapatkan apa yang aku minta, yaa... Om Piet Hitam, kita luluran yuk biar kamu ga hitam terus...Aku sayang kalian semua, Om... Makasi yaaa..."Hmmm...saya nulis ini sambil denger The First Noel-nya Kenny G. Ga sadar ada air mata... Hiks...xoxo,uthe
 +: kapan terakhir kamu ngerayu Aku?" -: entah lah, Om Jes, rasanya hampir setiap saya ingin sesuatu, saya pasti ngerayu Kamu..+:kenapa harus pada saat kamu ingin sesuatu? -: saya perlu baik-baikin Kamu supaya yang saya mau ngasih permintaan saya.+:kamu tau nggak bahwa Aku pun cemburu kalau kamu menduakan Aku atas kesenangan-kesenangan yang kamu alami? -: saya nggak tau, Om Jes, saya terlalu senang dengan apa yang saya punya, sehingga saya lupa bahwa kalo nggak karena Kamu mana mungkin aku bisa ngerasain ini... maafkan aku, Om..+: Kamu itu anakKu, pasti Aku maafkan... +: sekarang kamu lagi susah, ya, makanya kamu ngerayu Aku mulu? -: iya, Om Jes.. Om tau kan saya mau apa? Saya ingin progress, saya ingin melihat mereka tersenyum lagi, saya ingin dia pulang..+: datalang lah selalu kepadaKu, jangan kamu pernah lupakan Aku. Aku telah memberikan kamu kesenangan, Aku pun ingin bermesraan sama kamu. -: iya, Om Jes, maafkan saya yang sering lupa kalo Kamu nggak pernah tutup mata memperhatikan kami. terima kasih karena karena Kamu nggak pernah ninggalin saya dan kami semua. +: Aku sayang kamu. -: bahkan aku sangat sayang Kamu. Kamu yang memiliki saya sepenuhnya.Tuhan, aku minta maaf, baru ini lagi aku datang untuk ngerayu dan mesra-mesraan sama Kamu. Tolong berikan kesembuhan pada ayah mertuaku. Hampir 2 bulan, sejak aku menikah, di rumah sakit tanpa diagnosa yang signifikan. Berikan kekuatan kepada keluargaku, untuk selalu setia bersabar dan memohon kepadaMu. Aku tau Kamu nggak akan pernah mengabaikan permintaanku, Kamu lah satu-satunya sumber kehidupan dan kebahagianku. Please... I love you, Om Jes... Jangan bosan kalo aku ketok pintu mulu, ya... insert picture Where_is_my_heaven__by_Zindy.
 Konon buat keluarga Batak, warisan orangtua mayoritas diberikan kepada anak laki-lakinya. Gue nggak tau keluarga lainnya bagaimana. Namun sayangnya, kebanyakan nasib warisan itu jadi perkara. Perkara di keluarga itu sendiri. Mungkin orangtua belum membuat secara detail hartanya akan diwariskan kepada siapa aja, dan ada baiknya kalo dibagi rata aja. Tapi beberapa pihak ada juga yang merasa tidak adil. "Gue kan anak laki-laki tertua, harusnya gue lebih banyak", dan berbagai argumen lainnya. Ada sebuah keluarga yang gue kenal mengalami nasib ketidak beruntungan seperti itu. Orangtuanya memeiliki harta warisan yang banyak. Mulai dari perusahaan, uang, properti, mesin, dan lainnya. Singkat cerita, saat pembagian warisan terjadi kericuhan. Ribut soal pembagian, tidak terima dengan porsinya masing-masing. Gue nggak tau pengacara terlibat apa nggak. Parahnya lagi, hal ini sampai masuk ke media. Weleh weleh keke... Ada lagi cerita seorang teman, dia punya teman laki-laki, katakan lah inisialnya XYZ, yang datang dari keluarga mapan. Orangtuanya selalu memberikan apa yang anak-anaknya minta. Tapi XYZ tidak, dia pengen usaha sendiri. Hingga satu waktu dia minta ijin ayahnya untuk tinggal di luar negeri, mulai dari nol, dengan tabungannya selama dia kerja. Dia tidak ingin merepotkan ayahnya. "Kalau kamu tidak berhasil, kamu pulang aja, yaa... Papi nggak apa-apa kok...", respon ayahnya. Selama tinggal disana, dia kerja jadi tukang cuci piring. Dari penghasilannya, pelan-pelan dia bisa beli komputer, kulkas, mesin cuci, dll. Tidak jauh dari apartemennya, ada seorang Ibu, usianya kira-kira 50an tahun, yang tinggal sendiri. Ibu ini sering sekali berkebun. Dan XYZ ternyata juga suka berkebun. Akhirnya dia ikut bantu-bantu Ibu tersebut untuk menata kebunnya. Alasannya kepada Ibu itu, "Saya suka berkebun, nggak ada maksud apa-apa".Selang beberapa tahun kemudian, XYZ pulang ke Jakarta. Ayahnya pun bertanya bagaimana kelangsungan hidup putranya di negara itu, "Masih jadi tukang cuci, Pi... Tapi aku menikmati... Yang penting aku nggak ngerepotin Papi.". Keajaiban dimulai ketika dia ditelpon pengacara dari negara tempat dia mengadu nasib, "Ibu mewariskan hartanya kepada Anda sebesar Rp380M (dikurskan ke Rupiah).", sontak XYZ langsung kaget. Karena dia bukan siapa-siapa. Ternyata anak-anak Ibu itu pun nggak tau soal itu. "Ini dirahasiakan oleh Ibu", kata pengacara. Uang itu sampai saat ini masih dia simpan. Bunganya diberikan kepada anak yatim di negara itu dan di Indonesia. Terserah kita mau ngambil pesan moralnya dari mana. Tapi, sekali lagi, menjadi orang yang tulus itu susahnya ampun-ampunan. Tapi jadi orang yang tulus itu berkatnya nggak abis-abis. Dan warisan itu nggak melulu berupa harta, walaupun kita pasti ngarep, hehehe. Mungkin gue akan mewariskan aksesoris, sepatu-sepatu dan tas-tas gue nanti ke keturunan gue, hihihihi. insert picture Money_money_money____by_dancingperfect.
Menurut Wiki: "Menopause adalah berhentinya secara fisiologis siklus menstruasi yang berkaitan dengan tingkat lanjut usia perempuan."
Mengutip dari sini: http://tabloidnova.com/articles.asp?id=611 Gejala utamanya adalah berhentinya haid, yang bisa terjadi secara langsung atau mengalami haid dalam jumlah banyak lebih dulu, baru berhenti total. “Gejala lainnya adalah merasa diri tua, takut, gelisah, mudah marah, sering sakit kepala, mudah nyeri kepala dan otot pinggang,” ujar Dr. Supriyadi H.R, Sp.OG pada seminar yang sama.
Hilangnya rasa percaya diri, menurut Supriyadi, juga bisa jadi salah satu gejala lantaran dia merasa sudah tua, sementara anak-anaknya sudah dewasa. Sehingga, dia merasa tidak dibutuhkan lagi. Akibatnya, sadar atau tidak, sebagian wanita yang mengalami menopause berubah jadi cerewet untuk menarik perhatian anggota keluarga lainnya. Gejala menopause seperti ini, menurut Supriyadi, biasanya tidak muncul pada orang desa, melainkan pada wanita perkotaan yang punya beban pikiran lebih banyak.
Sepertinya nyokap gue menjurus ke arah ini... 
 Hahahha, mungkin lo tau gue mau cerita apa.. Hmmm.. Ok ok... Gue pikir gue udah bisa bernafas lega karena nggak ditanyain kapan nikah lagi sama orang-orang, ternyata TIDAK. Bulan depan tepat 3 bulan gue menikah dan gue mulai agak bega dengan that frequently fucking fuck asked question. "Udah isi belom?""Isi apa? Handphoneku pake pascabayar kok..""Bukan, hehehe... Udah hamil belom?""Belom, aku masih asik-asikan becinte..."Gue menjawab seperti itu kalo yang nanya masih sebaya gue dan ibu muda. Di sebuah acara keluarga, gue bertemu banyak sekali sodara gue. Dan sebanyak itu pula lah pertanyaan itu mengiang-mengiang di kuping gue. "Ehhhh, Ruuuuthhhh... Duh, penganten baru.. gimana bulanmadunya?""Yahhh, seperti pasangan honeymooners lainnya...""Enak? Hahahahaha...""Tentunjaaahhhhhh...""Udah hamil belom?""Belom... Doain aja yaaa...""Kamu nunda yaa?""Nggak kok... Emang belom hamil aja...""Jangan sibuk-sibuk ya, jangan pulang malem mulu...""Hmmm.. iya... hehehehe..."Pas lagi mau makan, ketemu lagi sama temen gereja gue... "Udah isi belom?""Ada pertanyaan lebih kreatif untuk hari ini?""HAHAHAHAHA.. Bega kan lo? Apalagi gue..", teman gue ini akhirnya punya anak juga."Bangeeeeettttttt...""Ga usah dipikirin... Biarin aja... Wong yang digenjot elo kok bukan mereka...""Wakakakakakakkkkk...."Orangtua dan mertua gue juga nggak nanya-nanya (thank God...), tapi mungkin nanya dalam hati atau mengucapkan hal-hal eksplisit.. "Ruth, kamu jangan keseringan pakai hak tinggi..""Iya, inang.. Tapi biasanya kalo sampe kantor aku langsung ganti sendal teplek kok...""Iya... Soalnya kan lagi mau hamil.. Biar nggak kenapa-kenapa..."Yahhhh doakan saja lah perut ini isinya nggak cuma makanan saja.. Untuuuung penyerbukan itu enak... hahahaha... Jadi perasaan bega gue masih bisa terobati.. hihihih... insert picture: pregnant_girls_by_spamnamie.png
 Sepupu-sepupu kandung gue ada banyak banget dan ada "angkatannya". Maksudnya, ada yang sebaya gue, ada yang sebaya adek gue, bahkan yang masih pada SD. Jadi tiap usia ada teman mainnya, walaupun tiap acara keluarga berbaur. Apalagi yang krucil-krucil itu... Hihihihi... Mereka yang selalu rebutan nyanyi di setiap kebaktian keluarga bulanan. Waktu persiapan pernikahan gue, secara khusus gue minta sepupu kecil (melalui orangtuanya) untuk nyanyi pada saat gue sungkeman. Karena mereka anak-anak kecil dan mewakili gue, sebagai anak. "Ok, kamu terima beres pokoknya... Nggak usah dipikirin, kamu pikirin kebayamu aja..", begitu respon tante gue. Di bulan berikutnya kami bertemu lagi, lalu gue nanya gimana dengan nyanyiannya, nyanyi apa, jawab tante gue, "Tanya aja sama anak-anak itu.. hihihihi...". "Heyyyyyy sayang.. kalian nanti nyanyi apa untuk pernikahanku nanti?", tanya gue. Jawab mereka, "Adaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa ajaaaaaaaaaaaaaa.... surprise buat Kak Ruuuuutttthhhh...". Lalu mereka memeragakan mengunci mulut mereka. Hahahaha. Tante gue nanya, apakah sepupu-sepupu kecil perlu pakai seragam. Gue jawab bahwa gue tidak punya budget lebih untuk itu.  Singkat cerita, tiba juga hari pernikahan gue. Jumat, 7 September 2007. Kucluk-kucluk satu persatu sepupu-sepupu kecil gue datang. Dan ternyata mereka tabur bunga jugaaaaa.... senaaaaaaaaangggg... "Waaaaaaaaaa.... kalian cantik sekali dengan baju biru ituuuuu...!!", seru gue ketika melihat mereka. "Surpriseeeeeeeeeeeeeeeeee......", jawab para krucil. Hihihihihi. Sekali lagi gue nanya, "Jadi pas aku sungkeman nanti, kalian nyanyi apa?", jawab mereka dengan kompak, "Pokoknya rahasia, ini surprise buat kak Ruth dan Bang Rony.", huehehehee... Eh yang satu nanya, "emang surprise itu apa, sih, kak?", hihihihihihi... Prosesi dengan lagu "We Sing Praises"nya Don Moen. Tukar cincin dengan lagu "S'mua Baik"nya Edward Chen. Kedua lagu itu gue yang pilih. Liriknya pas banget. Kami memuji dan semua yang direncanakan Tuhan adalah baik. Tiba saatnya sungkeman, krucil-krucil itu nyanyi "Doa Seorang Anak", huaaaaaaaa.... Gue bener-bener dikejutkan, hihihhi. Beberapa dari mereka nyanyi sambil lihat ke gue & Rony, ngedipin mata seakan-akan bilang, "It's been good", hihihihi... Dear Krucil-krucilku, abang, kakak & adik sepupuku, thank you so much... You have blessed me in ways you may not realized..
| |