
Misalnya gue adalah seorang jurnalis koran harian. Gue dateng ke sebuah TKP. Gue melihat kondisi dan situasi terakhir di TKP. Gue melihat kondisi narasumber. Gue dapet data dari pihak ketiga. Gue dapet sedikitnya 1 foto. Dan hal-hal lain yang mendukung laporan gue.
Atas apa yang gue lihat, dengan melakukan cross-check sana-sini, pulang ke kantor. Bikin naskah, diapprove, dll, maka jadi lah sebuah berita.
Misalnya gue adalah seorang jurnalis televisi. Gue dateng ke sebuah TKP. Gue melihat kondisi dan situasi terakhir di TKP. Gue melihat kondisi narasumber. Namun karena situasi sangat sulit sekali untuk mendapatkan gambar maksimal, maka gambar yang gue punya pun biasa-biasa aja. Atau bahkan dianggap tidak layak tayang.
Atas hal tersebut gue pulang ke kantor, preview gambar, ternyata gambar gue nggak layak. Padahal beritanya bagus banget. Ga jadi tayang deh...
Kurang lebih begitu kali yaa bedanya. Setiap media punya tingkat kesulitannya masing-masing. Tapi, IMHO, di televisi lebih sulit. Karena yang disampaikan ke masyarakat nggak cuma berita dalam bentuk running text atau narasi, tapi juga visual yang mendukung narasi tersebut.
Tapi tetep... ada 1 yang akan selalu sama...
Bad news is a good news 
Menurutmu?
insert picture: lagi jadi PD gadungan waktu liputan mudik 2007 di Pelabuhan Merak.